Apa 5 fakta tentang zodiakmu? Klik disini buat cari tau!

Anda akan diminta untuk masuk dengan Facebook.

Dua belas zodiak yang kit...Show more
Dua belas zodiak yang kita kenal saat ini mempunyai sejarah yang panjang dan ternyata tidak sesederhana yang kita bayangkan.

Dalam pembacaan nasib seseorang berdasarkan zodiak, diperlukan perhitungan yang mendalam. Tidak hanya dengan tanggal lahir, namun tempat dimana orang tersebut lahir dan jam saat orang tersebut lahir.

Dalam bahasa Inggris, ini sering disebut dengan "descendant". Secara harfiah, descendant berarti sesuatu yang berhubungan. Tetapi dalam ilmu astrologi, ia bermakna lain.

Dalam perhitungan descendant biasanya akan diperoleh satu zodiak lain yang mempengaruhi dan planet yang mempengaruhi orang tersebut. Maka dari itulah diperlukan tempat dimana orang tersebut lahir dikarena posisi planet yang selalu berubah.

Selain nasib, zodiak juga bisa meramalkan kepribadian seseorang. Tentu saja dengan perhitungan yang lengkap dan teliti, tidak hanya bergantung pada kedua belas zodiak yang sering kita kenal saat ini.

Zodiak juga bisa meramalkan jodoh dan orang yang cocok dengan kita berdasarkan kepribadian dan elemen-elemen lain yang mempengaruhi kita.

Setiap zodiak mempunyai elemen, contohnya Aquarius. Ia memiliki elemen air yang berarti ia sangat tidak cocok dengan orang dengan zodiak yang mempunyai elemen api.

Setiap negara bahkan mempunyai zodiaknya sendiri. Seperti negara Tiongkok yang mempunyai zodiak dengan pelambangan hewan yang sering kita sebut sebagai "shio".

Indonesia sendiri mempunyai zodiak lokal yang kita kenal sebagai primbon atau weton yang dinilai sangat akurat.

Pernah mencoba meramal menggunakan primbon atau weton?

Primbon adalah sistem ramalan perhitungan Jawa yang hampir mirip cara perhitungannya dengan zodiak. Yang membedakan adalah adanya weton.

Weton adalah perayaan hari kelahiran berdasarkan hitungan hari dalam kalender Jawa. Dalam kalender Jawa, satu pekan terdiri dari tujuh hari yang diadopsi dari kalender Islam dan lima hari pasaran Jawa. Weton, adalah gabungan keduanya yang menunjukkan hari kelahiran seseorang.

Penanggalan Jawa memiliki runtutan sejarah yang panjang dengan minim literasi yang menerangkan asal-usul penanggalan yang masih kerap digunakan dalam beberapa kegiatan nasional.

Keberadaan kalender dalam sejarah budaya Jawa diduga dimulai dari adanya Kalender Saka yang terbawa dengan menyebarnya agama Hindu di Pulau Jawa kisaran awal Masehi. Kalender Saka sendiri dimulai pada 78 Masehi.

Penggunaan Saka sebagai penanggalan di Jawa tercampur dengan budaya animisme dan dinamisme yang kental saat itu. Peleburan ini digunakan hingga lintas penguasa kerajaan-kerajaan di Jawa sampai berdirinya Kerajaan Mataram.

Ketika Mataram berdiri bersamaan dengan masuknya Islam, maka dimulailah penyusunan penanggalan resmi yang menggabungkan kalender Saka, kalender Islam, dan kalender Julian yang dibawa oleh penjajah dari Barat saat itu. Gabungan itulah yang dianggap saat ini sebagai kalender Jawa.

Hingga kini, kalender Jawa terdiri dari tujuh hari mulai Ahad hingga Sabtu; lima hari pasaran; rata-rata 30 hari dalam sebulan; 12 bulan setahun yang bernama serapan campuran dari bahasa Arab, Sansekerta, dan Melayu.

Meski satu bulan rata-rata 30 hari, perayaan weton terdiri setiap 35 hari sekali karena kombinasi siklus tujuh hari biasa dan siklus lima hari pasaran atau yang disebut pancawara.

Pancawara atau siklus hari pasaran adalah putaran lima hari pasaran, yaitu Paing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi.

Kelima hari ini digunakan oleh masyarakat Jawa sebagai tanda berlangsungnya pasar di hari-hari tertentu, misal pasar yang dilakukan setiap hari Kliwon disebut Pasar Kliwon.

Sistem penanggalan inilah yang biasa digunakan olah masyarakat Jawa bukan hanya menandakan hari lahirnya seseorang, tetapi mulai dari menentukan masa tanam dan panen, bepergian, menentukan suatu keputusan, bahkan hingga dipercaya dapat menggambarkan karakter ataupun nasib.

Beragam 'pakem' dalam penghitungan serta penafsiran dari weton sudah mengakar begitu dalam. Beragam metode, rumus, ketentuan, entah formula lainnya diyakini dari generasi ke generasi memiliki makna untuk menjadi tuntunan ataupun peringatan bagi yang mempercayainya.

Misal, seseorang yang dilahirkan di hari Sabtu, dipercaya memiliki sifat sombong. Bila seseorang memiliki weton Kliwon, dipercaya memiliki bakat di bidang spiritual karena pasaran itu dianggap keramat atau suci.

Masyarakat yang masih menerapkan weton pun akan memiliki tradisi-tradisi khusus, seperti perayaan weton setiap 35 hari sekali dengan bubur pancawarna atau lima warna, yaitu hitam, putih, merah, kuning, dan hijau.

Saat ini pun beragam penghitungan dengan weton bermunculan, salah satunya seperti meramal kecocokan jodoh dengan weton. Biasanya penghitungan ini baru dikeluarkan ketika sepasang muda-mudi memutuskan untuk menikah. Para orang tua dan sepuh yang masih mempercayai weton, akan menghitung jumlah weton keduanya.